SUMUT || Sorotan mengenai pemakaman etnis Tionghoa atau kuburan Cina Marindal I menuai babak baru. Terlebih, munculnya ungkapan dari Ketua Yayasan Pengelola Kuburan bernama Harun/Alun, akan berhenti dalam waktu dekat, usai ditanya mengenai izin kuburan Cina Marindal I.

Semua bermula pada Kamis, 21 Januari 2021 silam. Saat itu, tim dari Forum Komunikasi Wartawan Indonesia (FKWI) mengirimkan surat konfirmasi secara resmi ke kediaman Harun/Alun di Kawasan Kecamatan Medan Johor, dan berharap dapat menemuinya.

Namun, sore itu Harun/Alun tidak dapat dijumpai. Gerbang masuk ke rumahnya digembok. Hanya beberapa mobil klasik jenis Jeep yang terparkir di halaman luar, dan suara percakapan berbahasa Tionghoa jelas bersumber dari food corner yang menyambung dengan pekarangan rumahnya.

Setelah beberapa kali memanggil pemilik rumah, muncullah pria tua memakai kaos berkerah dan celan panjang bewarna abu-abu. Belakangan, diketahui ia adalah penjaga rumah dan bernama Ismanto. Kemudian tim menitipkan beberapa pertanyaan dalam amplop tertutup untuk Harun/Alun kepadanya.

“Iya, nanti saya sampaikan. Saya sudah lama bekerja di sini,” yakin Ismanto dapat menjaga pesan yang dititipkan.

Setelah dua minggu, Harun/Alun selaku pengelola kuburan Cina Marindal I tidak juga memberikan konfirmasi. Tim FKWI kembali mengunjungi kediamannya, dengan maksud melakukan konfirmasi ulang. Tepatnya Jumat, 5 Februari 2021. Tim FKWI yang memasuki pekarangan langsung disambut panas oleh Harun/Alun dengan perdebatan, tentang tujuan konfirmasi yang dilakukan.

“Untuk apa kalian kirim surat banyak-banyak, saya sudah baca. Saya tidak paham maksud kalian yang mana ini. Yang di Kedai Durian atau di Marindal,” ungkapnya sembari memunculkan tanda tanya baru dengan dua lokasi berbeda, seperti yang disebutkanya.

Meski dibujuk berulang kali untuk memberi keterangan, Harun/Alun yang mengaku telah 32 tahun menjadi memimpin yayasan tetap menolak memberikan informasi apapun, dan langsung pergi dengan membonceng sepeda motor jenis bebek.

“Saya sibuk, lagi urus imlek. Silahkan kalian beritakan saja. Saya tidak takut. Saya sudah 32 tahun jadi ketua yayasan. Saya juga mau berhenti menjadi Ketua Yayasan,” ujarnya sambil menaiki sepeda motor dengan tangan gemetar, kemudian pergi. (bersambung/tim)