FKWI.TV || SAFRI

MEDAN – DPR RI mendesak Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) segera melakukan pemindahan narapidana (napi) bandar narkotika termasuk terpidana seumur hidup dan hukuman mati Egha Halim (46), ke lembaga pemasyarakatan (Lapas) Nusa Kambangan, sebagai cara membatasi ruang geraknya dalam berbuat kejahatan selama di tahanan.

“Segera setelah putusan hakim dibacakan, penempatan para bandar ini tidak lagi pada lapas-lapas tempat kejadian mereka berperkara melainkan di lapas super maksimum Nusa Kambangan,” ujar Anggota Komisi III DPR Hinca PanjaitanHinca kepada wartawan baru baru ini.

Politisi Partai Demokrat itu mengakui, Kemenkumham memang sudah menindaklanjuti usulan tersebut dengan memindahkan ratusan bandar pada Juli 2020. Namun,upaya serupa harus terus dilakukan dengan cepat.

” Kita harapkan Kemenkum HAM bekerja lebih serius, datalah para napi narkotika, yang kelas berat harus langsung di kirim ke Nusa Kambangan, sedangkan napi kelompok menengah ke bawah penempatannya di ruang khusus yang dijaga ketat dan dilengkapi alat jammer (penghilang sinyal),” katanya.

Menurutnya, Kunci dari peredaran narkotika di lapas adalah komunikasi, karena itu dengan matinya informasi, mungkin akan meminimalisir kegiatan peredaran,sehingga, upaya napi narkoba menjalankan bisnisnya di balik jeruji bisa diminimalkan.

Seperti Egha Halim, seorang terpidana mati kasus kepemilikan puluhan ribu pil ekstasi, sampai kini ia masih bertahan di Lapas Tanjung Gusta Medan, padahal dirinya termasuk kategori napi kelas berat dimaksudkan.

Karena masih belum juga di pindahkan ke Nusa Kambangan, kejahatan Egha Halim dalam mengedarkan ekstasi tak berkesudahan. Meski telah diputus pidana seumur hidup oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan pada 2014 lalu, Egha 4 tahun kemudian mendapatkan hukuman lagi oleh Pengadilan Negeri Medan.

Egha diputus bersalah mengedarkan 33.000 butir ekstasi berlogo Hello Kitty dalam sidang putusan di PN Medan tahun 2018 lalu dengan pidana mati sesuai Pasal 114 (2) jo Pasal 132 (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Perbuatan Egha Halim yang mengulangi perbuatannya mengendalikan pedaran narkotika, menunjukkan bahwa dirinya benar benar merasa kebal hukum dan terang terangan melawan program pemberantasan narkoba yang digagas pemerintah.

“Sudah berapa banyak generasi bangsa yang dirusak dengan narkobanya, dan mau berapa banyak lagi jika dia masih dibiarkan bertahan di tempatnya sekarang,”

Banyak kalangan yang mempertanyakan, keberadaan Egha Halim yang masih bertahan di Lapas Tanjung Gusta, sementara bandar seperti Agung dan sejumlah orang lainnya beberapa waktu lalu telah dipindahkan dari Lapas Tanjung Gusta ke Nusa Kambangan.

“Kenapa dia masih dipertahankan di Lapas, apa lantaran dari rumor yg beredar Egha kini menjalani usaha sebagai bos judi online,”sebut sumber.

Sementara itu, informasi lainnya menyebutkan, beberapa hari lalu BNN Sumut ada menjemput 6 orang napi Lapas Tanjung Gusta masing masing Gembong narkota Tembong, putra,Azhari,Aris, Indra dan bembeng, atas dugaan kasus narkoba.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *